Cerita Gue: Jadi Penerjemah

*Di sini gue pake bahasa sehari-hari. Karena ini hanya obrolan santai antar kita aja, sesama pengejar mimpi.

Akhir-akhir ini banyaaaak banget yang nanya ke gue:

Jadi penerjemah itu awalnya harus ngapain? Cari kerjaannya di mana? Awalnya lo gimana? Susah gak?

Lalu gue mikir, sepertinya banyak orang-orang di sekitar gue yang mulai melirik atau tertarik untuk jadi penerjemah. I’m honored that they want to hear about it from me, mau nanya-nanya ke gue. Tapi seringnya gue minder sendiri karena ngerasa masih penerjemah baru, belom banyak pengalaman, masih banyak yang harus diperbaiki di diri sendiri dan ngerasa belom pantes ngasih saran atau tips atau apapun ke orang lain.

Tapi, berhubung semakin lama semakin banyak yang nanya, gue pikir gak ada salahnya untuk dibahas di sini. Ini bukan tips, bukan wejangan, tapi hanya share pengalaman gue aja.

Pertama-tama, gue mau share pertanyaan-pertanyaan yang sering banget ditanyain ke gue.

  1. Kenapa gue jadi penerjemah?

Gue gak pernah mimpi jadi penerjemah. Malah gue baru ngeh kalo ini salah satu pilihan kerjaan yang cocok buat gue setelah beberapa tahun lulus kuliah. Gue memang sering baca novel, yang bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, karena hobi plus karena tuntutan kuliah sebagai anak Sastra Inggris.

Awal gue jadi penerjemah simple aja, karena liat lowongan kerja untuk penerjemah novel bahasa Inggris pas gue lagi nganggur. Waktu itu gue dapet lowongannya di Twitter dan itu bener-bener gak sengaja. Setelah gue cek nama penerbit (harus ekstra hati-hati kalau dapet info lowongan kerja dari internet) dan memastikan kalau penerbit itu ada dan memang lagi buka lowongan, gue kirim lamaran dan CV via email.

2. Jadi penerjemah itu ngapain aja?

Gue penerjemah novel bahasa Inggris, jadi intinya gue nerjemahin novel bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Penerbit kirim naskah berupa soft copy via e-mail atau buku via kurir. Naskahnya gue terjemahkan dengan program Word di komputer. Yes, gue ngetik sendiri. Lama pengerjaan untuk satu buku macam-macam, tergantung deadline yang dikasih penerbit dan tergantung kecepatan menerjemahkan sama kecepatan ngetik si penerjemah. Kalo gue sendiri, untuk satu buku rata-rata perlu waktu sebulanan.

Setelah buku selesai diterjemahkan dan dikirim balik ke penerbit, kadang-kadang ada penerbit yang beberapa waktu kemudian akan kirim balik naskah itu ke penerjemah kalau ada pertanyaan atau koreksi tentang hasil terjemahan. Setelah itu tinggal nunggu buku terbit (plus nunggu honor ditransfer, hehehe…)

3. Susah gak jadi penerjemah?

Jujur, susah! Karena dari nol banget, gue harus kerja keras untuk ‘cari nama’ di dunia penerbitan. Ya, memang makan waktu beberapa tahun, tapi karena gue yakin mau jadi penerjemah jadi gue pantang menyerah.

Selain itu, penerjemah juga harus selalu memoles dan meningkatkan skill menerjemahkan. Gue masih jauuuuh dari ahli, masih belajar. Setiap hari, setiap kerjaan, gue selalu berusaha untuk meningkatkan vocabulary bahasa Inggris dan Indonesia, memoles keluwesan dalam membahasakan kembali terjemahan dan memastikan apa yang pengin disampaikan penulis nyampe ke pembaca. Pokoknya gue harus bikin buku yang gue terjemahkan bisa dinikmati para pembaca dan bisa dibaca tanpa ada kebingungan ‘maksudnya apa?’.

4. Jadi penerjemah honornya gede, ya?

Ya. Tapi itu kalau kamu jadi penerjemah dokumen-dokumen. Untuk honor penerjemah novel sebetulnya gak besar-besar amat. Tapi, buat gue, itu lebih dari cukup.

5. Jadi penerjemah itu santai, ya? Kerjanya di rumah doang.

Nah! Ini asumsi paling salah sedunia. Memang, penerjemah freelance kerja di rumah, judulnya juga cuma penerjemah lepas, tapi ini bukan kerjaan part-time. Penerjemah punya deadline yang WAJIB dipatuhi. Bayangkan, untuk satu buku, penerjemah harus menerjemahkan minimal 250 halaman dengan deadline sekian minggu. Kadang, buat ngejar deadline, Sabtu dan Minggu juga¬†gue kerja. Makanya penerjemah harus siap sibuk. Sibuk beneran, bukan sok sibuk. ūüėČ

Tapi, gue bisa bilang dengan yakin, bahwa jadi penerjemah itu buat gue sangat menyenangkan dan stress-free. Kenapa? Karena ini bukan sekadar kerjaan, tapi juga hobi gue. Dan kalau kita pintar ngatur waktu, kita yang tentuin kapan dan berapa lama kita mau kerja, kapan dan berapa lama kita mau libur.

Skeletal hands

Image ©Phil Date from Dreamstime Stock Photos

Selanjutnya, gue akan bahas pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyain ke gue dari orang-orang di sekitar gue yang tertarik untuk jadi penerjemah.

  1. Di mana cari lowongan jadi penerjemah?

Ini lumayan banyaaaak yang tanya. Dan jawaban gue adalah: cari di internet. Sekarang-sekarang ini hampir semua penerbit punya akun sosial media, dari mulai Facebook, Twitter sampai Instagram. Cara pertama untuk mulai cari lowongan adalah add atau follow akun-akun itu. Gue dapet kerjaan di dua penerbit dengan cara ini, yang pertama dari Twitter dan yang ke dua dari Facebook.

Selain itu, ada juga penerbit yang punya forum, contohnya Elex Media Komputindo. Di forum cari thread lowongan.

Enaknya cari lowongan dengan kedua cara di atas adalah kita bisa tanya-tanya ke adminnya tentang hal-hal yang masih belum kita pahami dari syarat-syarat yang diajukan penerbit. Jadi, kalau memang akhirnya kita memutuskan untuk kirim lamaran, udah yakin seyakin-yakinnya bahwa kita sudah memenuhi persyaratan.

Jangan lupa pastikan kalau bidang penerjemahan sesuai dengan minat dan kemampuan kamu. Misalnya, kalo kamu seperti gue, suka banget baca novel atau mahasiswa/lulusan Sastra Inggris, cari lowongan untuk penerjemah novel/naskah fiksi. Kalo kamu tipe orang yang lebih serius, suka karya-karya ilmiah, dan punya hobi atau background di bidang tertentu (misalnya sejarah) buku non-fiksi sepertinya lebih pas.

2. Jadi penerjemah harus punya pengalaman?

Ini pertanyaan yang tricky untuk dijawab. Pertama kali kirim lamaran untuk jadi penerjemah, pengalaman gue nol, tapi gue tetep nekat. Tapi akhir-akhir ini gue memang liat kalau ada beberapa penerbit yang mencantumkan syarat harus punya pengalaman menerjemahkan minimal dua buku. Saran gue sih, kalau memang yakin, coba aja kirim lamaran. Semua penerbit pasti akan kirim tes untuk kita kerjakan, jadi kerjakan tes itu sebaik-baiknya dan kirim sesuai deadline yang sudah ditentukan. Who knows penerbit bakal suka sama gaya penerjemahan kamu.

3. Apa aja yang harus dikirim untuk melamar jadi penerjemah?

Gue pernah baca post di blognya salah satu penerjemah senior, Mbak Dina Begum, tentang surat lamaran untuk penerjemah. Digabung dengan pengalaman gue sendiri (yang masih belum seberapa) ini yang gue dapet:

  • Gunakan alamat e-mail yang profesional. Penting? Tentu. E-mail address si pengirim lamaran bakal jadi hal pertama yang dibaca penerbit. Jadi, tinggalin deh alamat e-mail yang unyu-unyu, misalnya gueimut@yahoo.com, rockandroll@gmail, pinkylover@hotmail.com. Lebih baik bikin alamat e-mail dengan nama sendiri. Selain lebih profesional, juga supaya penerbit gampang menghubungkan nama dengan alamat e-mail kamu, misalnya pradipta@yahoo.com, janit.putri@gmail.com dan sebagainya.
  • Jangan kosongkan subjek e-mail. Isi dengan ‘lamaran penerjemah novel penerbit ___.’
  • Tulis kata pengantar di e-mail walau hanya beberapa baris aja. Selain attach CV dan sebagainya, pastikan ada kata-kata pengantar di e-mail kamu. Misalnya,

yth. HRD penerbit ___, berdasarkan informasi yang saya dapat dari ___ maka saya berniat untuk melamar menjadi penerjemah di penerbit ___.

  • Selain CV, akan lebih bagus kalau kamu kirim juga contoh terjemahan. Gak perlu panjang, setengah atau satu bab juga cukup. Pastikan novel yang kamu terjemahkan belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, untuk menghindari kecurigaan copy-paste terjemahan. Menurut gue, langkah ini penting, apalagi untuk kamu yang belum punya pengalaman menerjemahkan. Siapa tau setelah baca hasil terjemahan kamu editor tertarik untuk ngirim tes terjemahan walau kamu belum punya pengalaman. Kesempatan untuk diterima bisa jadi lebih besar, kan?
  • Beberapa novel punya konten dewasa. Kalo kamu kirim lamaran untuk menjadi penerjemah novel/naskah fiksi, dan kamu nggak mau menerjemahkan konten yang hot-hot atau yang agak ‘nyerempet-nyerempet’ tulis juga itu di lamaran kamu. Jangan sampai editor kirim tes novel dewasa dan kamu baru bilang kalo kau nggak mau menerjemahkannya. It’ll save you, and your future editor, a lot of hassle.
  • Nama file attachment, berupa CV atau contoh terjemahan, jangan lupa ditambah dengan nama kamu, misalnya CV Penerjemah_Mustika Ardiana. Ini dilakukan supaya file CV kamu gak tenggelam di antara sekian juta file ‘dokumen’ yang ada di komputer penerbit.
  • Sabar. Yang gue alami waktu ngirim lamaran, penerbit perlu waktu lumayan lama untuk memproses lamaran, mengirim tes (kadang lebih dari satu tes) sampai akhirnya nawarin gue kerjaan. Waktu yang paling lama yang gue alami dari mulai kirim lamaran sampai ditawarin kerjaan adalah tiga bulan. Lalu dari pekerjaan pertama sampai akhirnya dapet kerjaan reguler setiap bulan perlu beberapa bulan lagi.

 

dreamstimefree_106245

Image ©Dawn Hudson from Dreamstime Stock Photos

4. Setelah jadi penerjemah, apa yang harus dipertahankan supaya penerbit pakai jasa kita lagi dan lagi? 

  • Terus belajar. Jangan pernah capek untuk terus belajar menerjemahkan lebih baik, tambah kosa kata dan sebagainya. Kalau gue, belajar adalah rajin-rajin baca novel (Inggris dan Indonesia) dan rajin nonton film berbahasa Inggris dengan subtitle bahasa Indonesia. Kenapa? Pertama, untuk lihat “Oh, kata ini bisa diterjemahkan seperti itu” atau “Oh, peribahasa ini padanannya itu toh” dan, kedua, untuk¬†menambah kosa kata Inggris dan Indonesia. Gue selalu catet kata baru di notebook kecil plus artinya atau penggunaannya, kalau-kalau lupa dan biasanya dengan mencatat justru jadi lebih nempel di otak. Lalu ikutan page-nya Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) di Facebook. Pastikan nama kamu nama asli dan foto kamu, kalo pake foto diri, sopan, ya (that means no duck face!). Page ini banyak sekali nambah wawasan gue tentang penerjemahan. Setiap hari ada aja diskusi tentang berbagai hal yang penting untuk proses belajar seorang penerjemah.
  • Jangan pernah telat ngirim kerjaan. Kecuali ada kejadian luar biasa yang bener-bener bikin kamu gak bisa akses gadget dan Internet, jangan pernah telat ngirim kerjaan. Always on time. Cara supaya gak pernah telat? Begitu terima kerjaan, hitung target halaman yang harus kamu selesaikan setiap hari, jumlah halaman dibagi jumlah hari pengerjaan minus hari libur (Sabtu atau Minggu). Jangan lupa sisakan waktu beberapa hari untuk cek ulang terjemahan. Dengan mematuhi hasil perhitungan ini kamu pasti bisa menerjemahkan tepat waktu. Ingat! Deadline is your lifeline.
  • Jangan maksa ambil kerjaan. Ini terutama berlaku untuk yang punya kerjaan di dua penerbit atau lebih, like me. Perhitungkan baik-baik. Apa kamu sanggup mengerjakan dan mengirim kerjaan tepat waktu? Lebih baik jujur ke editor dan bilang kalo kamu masih punya kerjaan yang harus diselesaikan, daripada maksa ambil lalu akhirnya keteteran dan telat ngirim kerjaan. Sebagai orang yang pernah jadi editor, gue tahu editor akan lebih menghargai kejujuran kamu. Bahkan, kalo editor kamu suka banget sama kerjaan kamu dan waktunya memungkinkan, biasanya editor bersedia menyesuaikan jadwal pengerjaan¬†dengan jadwal kamu. It’s a win-win solution.

5. Referensi apa yang gue pakai untuk membantu proses penerjemahan?

Gue sangat mengandalkan Internet. Semua available di Internet. Tapi, yang paling sering gue kunjungi adalah Kateglo, Sederet.com, Proz.com plus Google.

Kateglo untuk mencari kata dalam bahasa Indonesia sesuai EYD menurut KBBI plus sinonim dan artinya.

Sederet.com untuk membantu ngasih ‘clue’ tentang kata yang artinya gue lupa atau nggak tau.

Proz.com untuk arti atau padanan berbagai istilah dalam bahasa Indonesia, misalnya istilah hukum waktu gue lagi nerjemahin novel yang profesi karakter utamanya adalah pengacara.

Google sih bisa buat banyak hal. Misalnya cari arti kata dalam bahasa Inggris (arti plus sinonim dan antonim), cari arti peribahasa atau padanannya dalam bahasa Indonesia, cari arti bahasa slank, cari referensi tentang peristiwa, tokoh, atau bahasa lain yang dibahas dalam novel yang lagi gue terjemahin, dan sebagainya.

Dan, sesekali, gue juga masih buka kamus fisik kok, peninggalan zaman kuliah dulu.

*

Baiklah, mungkin hanya segitu yang bisa gue bahas. Jadi penerjemah itu memang bukan pekerjaan yang gue impikan dari dulu, tapi setelah gue jalanin (walau masih berusaha ‘cari nama’) gue yakin kalau inilah pekerjaan impian gue. Kalo kamu pengin jadi penerjemah juga, terus coba, terus usaha, terus latihan, pokoknya jangan pantang menyerah, oke?!